Sejarah Pendidikan Islam
Dosen : AHMAD SYAFI’I KARIM, M.Pd.I
Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Menurut Istilah keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau
atau pada masa yang masih ada”.
Kata tarih juga dipakai dalam arti, perhitungan tahun, seperti: sebutan
sebelum atau sesudah tarih Masehi.
Sejarah ialah : suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui
keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang
terjadi dikalangan umat.
Menurut Bahasa Inggeris, History yang berarti “pengalaman masa lampau
daripada umat manusia ”the past experience of mankind. Pengertian selanjutnya
memberikan makna sejarah sebagai catatan yang berhubungan dengan
kejadian-kejadian masa silam yang diabadikan dalam laporan-laporan tertulis dan
dalam ruang lingkup yang luas.
Kemudian sebagai cabang ilmu pengetahuan sejarah mengungkap
peristiwa-peristiwa masa silam, baik peristiwa sosial, politik, ekonomi, maupun
agama dan budaya dari suatu bangsa, negara atau dunia.
menurut Sayid Quthub “Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan
tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan
nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberikannya
dinamisme dalam waktu dan tempat”.
Pengertian “Sejarah Pendidikan Islam / Tariihut Tarbiyyah Islamiyyah”
Keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari
waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai dengan masa
sekarang;
Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi
institusi dan operasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.
Metode penggalian sejarah pendidikan Islam yaitu ;
Metode lisan ; dengan metode ini pelacakan sejarah dengan menggunakan atau
melakukan wawancara.
Metode observasi ; dengan metode ini melakukan observasi atau pengamatan
langsung di lapangan.
Metode dokumenter ; dengan metode ini berusaha mempelajari secara mendalam
tentang dokumen atau catatan penting dalam dokumen tertulis
Metode Penulisan Sejarah
Pendidikan
Islam
Metode deskriptif ; metode ini ditunjukan untuk menggambarkan adanya
pendidikan Islam tersebut, maksudnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW baik al Qur`an dan hadis terutama yang berkaitan dengan pendidikan
dan diuraikan dalam sejarahnya.
Metode komparatif ; metode ini berusaha membandingkan sebuah perkembangan
pendidikan Islam dengan lembaga-lembaga Islam lainnya. Metode ini dimaksudkan
bahwa ajaran Islam termasuk persoalan pendidikan di komparasikan dengan
fakta-fakta dan realita yang berkembang saat ini . dengan mengetahui hal itu
maka dapat melihat bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan yang lainnya.
Metode analisis sintesis ; metode ini lebih mengarah pada analisis kritis
guna dapat memperoleh kesimpulan yang spesifik. Dengan demikian akan tampak adanya kelebihan dan
kekhasan pendidikan Islam.
Obyek Sejarah Pendidikan
Islam
mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan
pendidikan Islam, baik formal, in formal maupun non formal dan hal ini sejalan
dengan peranan agama dakwah yang menyeruh kepada kebaikan dan mencegah segala
bentuk kemungkaran, dalam rangka menuju kepada kehidupan yang sejahtera lahir
dn batin.
Kegunaan Sejarah Pendidikan Islam
Yang bersifat umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai kegunaan sebagai
faktor (uswah) keteladanan.
Menurut H. Munawar Cholil, bahwa “sesungguhnya pengetahuan tarih itu banyak
gunanya, baik bagi urusan keduniaan maupun bagi uruan keakhiratan. Barang siapa
hafal (mengerti benar) tentang tarih, bertambahlah akal pikirannya.
Yang bersifat akademis, kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan
perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk
menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam
terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi.
Penekanan mata kuliah SPI; kegunaan studi sejarah pendidikan Islam diharapkan
dapat :
- Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang.
- Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guna memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
- Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.
Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam
Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu:
- periode klasik, diperhitungkan sejak wafatnya Rasulullah, sampai akhir tahun 1250 M,
- periode pertengahan yaitu antara tahun 1250-1800 M
- periode modern diperhitungkan sejak tahun 1800 M dan selanjutnya sampai sekarang.
Sedangkan perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu:
- Masa Nabi Muhammad SAW (571-632 M)
- Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar,Umar, Utsman dan Ali di Madinah/632-661 M)
- Masa kekuasaan Umaiyah di Damsyik (661-750 M)
- Masa kekuasan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M)
- Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M sampai sekarang.
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA
NABI MUHAMMAD
Pendidikan Islam Pada Fase Mekkah, dimulai sekitar tahun 610 M pada tgl 17
Ramadhan sejak wahyu pertama turun (Al Alaq 1-5)
Pendidikan Islam Pada Fase Madinah dimulai sejak Rasulullah Hijrah ke Madinah
sekitar tahun ke 13 kenabian
Tahapan Pendidikan Pada Fase Mekkah
- Tahapan Secara rahasia/perorangan untuk keluarga dan sahabat dekat disebut Assabiqunal Awwalun (orang2 yang pertama masuk Islam) selama 3 tahun.
- Tahapan secara terang-terangan, mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul dibukit Shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras di kemudian hari (hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, Celakalah kamu Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami? Saat itu turun wahyu menjelaskan perihal Abu Lahab dan Istrinya.
- Tahapan untuk umum, sejak turun ayat S. Al Hijr ayat 94-95, pada awalnya banyak yg menolak kecuali jama’ah haji dari Yastrib, kabilah Khazraz yg menerima dgn antusias. Dari sinilah Islam mulai memancar dari luar Mekkah.
Materi Pendidikan Islam di Mekkah
Materi Pendidikan Tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran
agama tauhid yang dibawa nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat
jahiliah. Secara teori inti sari ajaran (pendidikan) agama tauhid terdapat
dalam kandungan salah satunya surah al-Fatihah Ayat 1-7 dan surat al-Ikhlas
Ayat 1-5.
Materi Pengajaran Al Qur’an Materi ini dapat dirincikan
- Materi baca tulis al-Qur’an, untuk sekarang disebut dengan materi imla’ dan iqra’. Dengan materi ini diarapkan agar kebiasaan orang Arab yang sering membaca syair-syair indah, diganti dengan membaca al-Qur’an sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai sastranya.
- Materi menghafal ayat-ayat al-Qur’an, yang kemudian hari disebut dengan menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an.
- Materi pemahaman al-Qur’an, saat ini disebut dengan meluruskan pola pikir umat Islam yang dipengaruhi pola pikir jahiliah. Disinilah letak fungsi hadist sebagai bacaan al-Qur’an.
Menurut Mahmud Yunus pembinaan pendidikan Islam masa Mekkah ini meliputi:
- Pendidikan keagamaan yaitu ; hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah sebab itu hendaklah berhala itu di buang sejauh- jauhnya.
- Pendidikan akliyah dan ilmiah, yaitu mempelajari kejadiam manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan yang demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya, Untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki.
- Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad SAW mengajar sahabatnya agar berakhlak sesuai degnan ajaran tauhid.
- Pendidikan jasmani (kesehatan) yaitu mementingkan kesehatan, kebersihan pakaian, badan dan tempat tinggal.
Metode Pendidikan Islam
- Metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya;
- Metode Dialog, misalnya dialog antara Rasul dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman, dialog antara Rasulullah dengan para sahabat untuk mengatur strategi perang.
- Metode Diskusi atau tanya jawab; sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian rasul menjawab.
- Metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah-satu anggota tubuh maka anggota tubuh yang lain akan merasakannya.;
- Metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan Isra Mi’raj dan kisah tentang pertemuan antara nabi Musa dengan nabi Khaidir;
- Metode pembiasaan: membiasakan kaum muslimin sholat berjamaah;
- Metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.
Dalam buku Tarbiyah Islamiyah yang ditulis oleh
Najib Khalid
Metode pendidikan Islam yang dilakukan nabi Muhammad SAW
pada periode Makkah dan Madinah, adalah:
- Melalui teguran langsung misalnya Hadist Rasulullah SAW; Umar ibn Salman r.a “berkata dahulu aku menjadi pembantu i rumah Rasulullah Saw, ketika makan misalnya aku mengulurkan tangan keberbagai penjuru. Melihat itu beliau berkata, Hai ghulam bacalah bismillah, makanlah dengan kananmu dan makanlah apa yang ada didekatmu; ”
- Melalui sindiran Rasulullah bersabda : “apa keinginan kaum yang mengatakan begitu ? Sesungguhnya kau sholat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka dan aku menikahi wanita, maka barangsiapa dengan sunnahku berarti dia bukan golonganku” (lihat Shahirul Jami Ash Shaghir,juz 5 hadis no. 5448.
- Pemutusan dari jamaah. Pernah Ka’ab ibn Malik tidak ikut beserta Rasulullah dalam perang Tabuk. Dia berkata, Nabi melarang sahabat lainnya bicara dengan aku.
- Melalui perbandingan kisah orang-orang terdahulu; menggunakan kata isyarat misalnya merapatkan kedua jarinya sebagai isyarat perlunya menggalang persatuan; keteladanan setiap apa yang disampaikan Rasulullah SAW maka yang menjadi uswahnya adalah Rasulullah sendiri.
Kurikulum Pend. Islam
Kurikulum pendidikan Islam pada periode Rasulullah baik di Makkah maupun
Madinah adalah al-Qur’an yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan
situasi,kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam pada saat itu, karena
itu dalam prakteknya tidak saja logis dan rasional, tetapi juga fitrah dan
pragmatis. Hasil cara demikian dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para
pengikutnya.
Lembaga Pendidikan Islam
Rumah Arqam ibn Arqam (Darul Arqam) merupakan tempat pertama berkumpulnya
kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar
ajaran Islam. Rumah ini meruakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang
pertama sekali dalam Islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah
Rasulullah sendiri.
Kuttab
Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus pada
materi baca tulis sastra, syair arab, dan pelajaran berhitung namun setelah
datang Islam materinya ditambah materi baca tulis al-Qur’an dan memahami
hukum-hukum Islam. Adapun guru yang mengajar di Kuttab adalah orang-orang
non-Islam.
Dalam sejarah pendidikan Islam istilah Kuttab telah dikenal dikalangan
bangsa arab pra-Islam, secara etimologi Kuttab berasal dari bahasa Arab, yakni
kataba, yaktubu, kitaaban yang artinya telah menulis, sedang menulis, dan
tulisan, sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis.
Tahapan Pendidikan Pada Fase Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad SAW bersama kaum muslimin Makkah,
disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan.
Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa
Quraisy Makkah, lingkungan yang dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan
menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedatangan Nabi Muhammad SAW
bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan
penuh rasa persaudaraan. Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari
ancaman para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang dakwahnya, menyampaikan
ajaran Islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Lembaga Pendidikan Islam di Madinah
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah
salah-satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid.
Setelah selesai pembangunan masjid, maka Nabi Muhammad Saw pindah menempati
sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya.
Masjid itulah yang menjadi pusat kegiatan Nabi
Muhammad Saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersama membina masyarakat
baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan
kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan,
mendirikan shalat berjamaah, membacakan al-Qur’an maupun membaca ayat-ayat yang
baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan dan
pengajaran.
Materi Pendidikan Islam di Madinah
Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum
muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, Nabi Muhammad bertitik
tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. Untuk mempersatukan
keluarga itu Nabi Muhammad SAW berusaha mengikatnya menjadi satu kesauan yang
terpadu. Mereka diersaudarakan karena Allha bukan karena yang lan-lain.
Pendidikan kesejahteraan sosial. setiap orang harus
bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, nabi
Muhammad Saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah dipersaudarakan
dengan kaum Anshor, agar mereka bekerja sama dengan saudara-saudaranya
tersebut.
Pendidikan kesejahteraan kaum kerabat. Yang dimaksud
dengan keluarga adalah suami, istri, dan anak-anaknya. Nabi Muhammad Saw
berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus
menerapakan sistem kekerabatan kekeluargaan baru yang bedasarkan takwa kepada
Allah. Diperkenankannya sistem kekeluargaan dan kekerabatan yang didasarkan
pada pengakuan hak-hak indvidu, hak-hak keluarga dan kemurnian keturunannya
dalam kehidupan kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang, seperti
yang terliat dalam surah A-Hujarat Ayat 13 :
Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum
muslimin merupakan satu state (negara) di bawah bimbingan nabi Muhammad
Saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwah-Nya untuk
menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh
karena itu, usaha nabi Muhammad Saw berikutnya adalah memperluas pengakuan
kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar Madinah untuk
mengakui konstitusi Madinah. Ajakan tersebut disampaikan dengan baik-baik dan
bijaksana.
Untuk mereka yang tidak mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan
tindakan Nabi Muhammad Saw, yaitu
- kalau mereka tidak menytakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin atau kaum kabilah telah mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, maka mereka dibiarkan saja;
- tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, maka harus ditundukkan/ diperangi, sehingga mereka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslimin.
Pendidikan Islam Pada masa Khulafaur Rasyidin
Khalifah Abu Bakar Ash shiddiq (632-634)
Perhatian terhadap Pendidikan Yang dilakukan :
- Mengajar hadis guna perbendaharaan dan kepentingan dasar penafsiran Al Qur`an dan untuk ketetapan hukum.
- Dibangun lembaga Pendidikan Kuttab yang merupakan tempat mengajarkan Al Qur`an, membaca dan menulis serta bljr Agama.
Materi Pendidikan Islam
- Pend. Keimanan, menanamkan ketauhidan
- Pend. Akhlak, sopan santun dan adab bergaul dlm masyarakat dll
- Pend. Ibadah, Sprt, pelaks. Sholat, puasa dan Haji
- Kesehatan, Sprt ttg kebersihan dll.
Umar Bin Khattab (634-644)
Pada masa khalifah Umar
bin Khatab, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis al-Qur’an
dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama Islam.Pendidikan pada masa
Umar bin Khatab ini lebih maju dibandingkan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan
untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk Islam
dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab, jika ingin belajar dan
memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah terdapat
pengajaran bahasa Arab.
pelaksanaan pendidikan
pada masa khalifah Umar bin khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah
negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan selain masjid telah
ditetapkan sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat
pendidikan Islam diberbagai kota dengan materi yang telah dikembangkan, baik
dari segi ilmu bahasa, menulis, dan ilmu pokok lainnya. Pendidikan dikelola
dibawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di
berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan sebagainya.
Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang
ditaklukkan dan dari baitulmal.
Ustman bin Affan
(644-656)
Adapun obyek pendidikan pada masa Usman bin Affan antara lain ;
- Orang dewasa atau orang tua yang baru masuk Islam.
- Anak-anak, baik orang tuanya sudah lama masuk Islam maupun yang baru memeluk agama Islam.
- Orang dewasa atau orang tua yang sudah lama memeluk Islam
- Orang yang mengkhususkan dirinya untuk menuntut ilmu agama secara luas dan mendalam.
Khalifahan Usman bin Affan dan perhatiannya terhadap
pendidikan maka dapat dipahami bahwa pendidikan dan lembaga–lembaga pendidikan
masih melanjutkan apa yang sudah ada, dan bahkan pemerintah memberikan hak
penuh kepada umat untuk memajukan pendidikan sesuai dengan semangat para
sahabat masing-masing, dimana pemerintah tidak menyediakan anggaran biaya untuk
menggaji para tenaga guru yang ada. Dengan demikian masa pemerintahan Usman
yang cukup lama tapi tidak muncul dan tidak kelihatan perkembangan pendidikan
secara signifikan. Hanya ada satu
capaian yang monumental yaitu pembukuan al Qur`an.
Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan,
sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan
pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan
gangguan. Pada masa itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan
sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian
bagi masyarakat Islam. Dengan demikian, pola pendidikan pada masa khulafaurrasyidin
tidak jauh berbeda dengan masa Nabi yang menekankan pada pengajaran baca
tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadist Nabi.
Pusat-pusat pendidikan pada masa khulafaurrasyidin antara lain :
- Mekkah. Guru pertama di Makkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an dan fikih.
- Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain : Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat lainnya.
- Basrah. Sahabat yang termasyur antara lain : Abu Musa al-Asy’ary, dia ádalah seorang ahli fikih dan al-Qur’an.
- Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyur di sini adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud mengajarkan Al-Qur’an, ia adalah ahli tafsir, hadis dan fikih.
- Damsyik (syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi bagian negara Islam dan penduduknya banyak beragama Islam. Maka khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara itu. Yang dikirim itu adalah Mu’az bin Jabal di Palestina, dan Ubaidah di Hims.
- Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru bin Ash, is adalah seorang ahli hadis.
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Sistem Pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin
Sistem Pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin dilakukan secara
mandiri, bukan pemerintah. Kecuali pada masa Umar yang turut campur dalam
menambahkan materi kurikulum pada lembaga Kuttab. Para sahabat yang memiliki
pengetahuan keagamaan membuka majlis pendidikan masing-masing.
Materi Pend. Islam pada masa Khulafaur Rasyidin :
- Membaca dan menulis
- Membaca dan menghafal Al Qur`an
- Pokok-pokok agama Islam seperti cara wudhu, sholat, puasa dan sebagainya.
Materi ketika Umar menjadi Khalifah
Berenang, mengendarai unta, memanah, membaca dan
menghafal syair-syair yg mudah dan
peribahasa
Pada tingkat menengah dan tinggi, al: Al Qur`an dan
Tafsirnya, Hadis dan pengumpulannya dan fiqh. Filsafat dan Ilmu-ilmu yang
dianggap duniawi belum dikenal pada masa itu.
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DINASTY UMAYYAH
Muawiyah adalah pendiri Dinasti Umayyah, ia merupakan putra dari Abu Sopyan
Ibn Harb ibn Umayyah ibn abdu Syam ibn
Abdu Manaf. Ibunya adalah Hindun binti utbah ibn Rabiah ibn abdi Syam ibn Abd
Manaf. Sebagai keturunan Abd
Manaf, Muawiyah mempunyai hubungan kekerabatan
dengan Nabi Muhammad. Ia masuk Islam pada hari penaklukan kota Mekah
(Fathul Mekkah) bersama penduduk kota mekah lainnya. Ketika itu Muawiyah
berusia 23 tahun.
Kemajuan yang dicapai :
- Pemisahan kekuasaan. Terjadi dikotomi antara kekuasaan agama dan kekuasaan politik.
- Pembagian wilayah. Wilayah kekuasaan terbagi dalam 10 (sepuluh) provinsi, yaitu : Syiria dan Palestina, Kufah dan Irak, Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain , Oman, Najd dan Yamamah, Arenia, Hijaz, Karman dan India, Egift (Mesir), Ifriqiyah (Afrika Utara), Yaman dan Arab Selatan, serta Andalusia.
- Bidang Administrasi Pemerintahan. Organisasi tata usaha negara terpecah ke dalam dewan. Departemen pajak dinamakan dengan Dewan al Kharaj, departemen pos dinamakan Dewan Rasail, departemen yang menangani berbagai kepentingan umum dinamakan dengan Dewan Musghilat, departemen dokumen negara dinamakan dengan Dewan al Khatim.
- Ilmu agama, seperti : Al-Qur’an, hadis, dan fikih. proses pembukuan hadis terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (99-10 H) Sejak saat itulah hadis mengalami perkembangan pesat.
- Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
- Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, saraf, dan lain-lain.
- Bidang filsafat, yaitu segala ilmu pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.
PENDIDIKAN ISLAM MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ
Kemajuannya adalah Sangat memperhatikan hadis dan Ilmu hadis. Beliau
pernah mengirim surat kepada Abu bakar ibn Muhammad dan kepada ulama-ulama lain untuk menuliskan dan mengumpulkan Hadis. Bahkan
melahirkan metode “Rihlah” yaitu, Para ulama mencari Hadis kepada orang-orang
yang dianggap mengetahuinya diberbagai tempat.
Hukum Fiqh secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 kelompok:
Ahl Ar-Ra`yu : Mengembalikan Hukum Islam dengan melalui
analogi/Qiyas.
Ahl al-Hadis :
Berpegang kpd. Dalil-dalil secara literal, mementingkan materi pelajaran
dalil-dalil ayat Al Qur`an dan dalil Hadis Nabi .
Menurut Hasan Lenggulung, diantara jasa Dinasty
Umayyah dalam
bidang Pendidikan
menjadikan masjid sebagai pusat
perkembangan Ilmu. Di Masjid diajarkan beberapa macam ilmu, diantaranya syair,
sastra, kisah-kisah umat terdahulu, dan teologi dengan menggunakan metode
debat.
Ilmu Pengetahuan yg
berkembang :
- Ilmu agama, seperti : Al-Qur’an, hadis, dan fikih. proses pembukuan hadis terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (99-10 H) Sejak saat itulah hadis mengalami perkembangan pesat.
- Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
- Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, saraf, dan lain-lain.
- Bidang filsafat, yaitu segala ilmu pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DINASTY BANI ABBASIYAH
Berdirinya Daulah Abbasiyah diawali dengan dua strategi, yaitu: satu dengan
sistem mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia, hal ini sudah
berlangsung sejak lahir abad pertama hijriah dengan bergabungnya Abu muslim
al-Khurasani pada jum’iyah yang yang sepakat atas terbentuknya Daulah
Abbasiyah. Sedangkan strategi kedua dilanjutkan dengan terang-terangan dan
himbauan-himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan Daulah Abbasiyah
berlanjut dengan peperangan melawan Daulah Umawiyah.
Faktor-faktor pendorong berdirinya Daulah Abbasiyah :
- Banyak terjadi perselisihan antara intern bani Umawiyah pada dekade terakhir pemerintahannya hal ini diantara penyebabnya: memperebutkan kursi kekhalifahan dan harta.
- Pendeknya masa jabatan khalifah di akhir-akhir pemerintahan bani Umawiyah, seperti khalifah Yazid bin al-Walid lebih kurang memerintah sekitar 6 bulan.
- Dijadikannya putra mahkota lebih dari jumlah satu orang seperti yang dilakukan oleh Marwan bin Muhammad yang menjadikan anaknya Abdulah dan Ubaidilah sebagai putra mahkota.
- Bergabungnya sebagian afrad keluarga Umawi kepada mazhab-mahzab agama yang tidak benar menurut syariah, seperti Al-Qadariyah.
- Kesombongan pembesar-pembesar bani Umawiyah pada akhir pemerintahannya.
- Timbulnya dukungan dari Al-Mawali (non Arab).
- Bergabungnya sebagian afrad keluarga Umawi kepada mazhab-mahzab agama yang tidak benar menurut syariah, seperti Al-Qadariyah.
- Kesombongan pembesar-pembesar bani Umawiyah pada akhir pemerintahannya.
- Timbulnya dukungan dari Al-Mawali (non Arab).
Ditulis
ulang by Sibty Assegav
Email : Sibtyassegav@gmail.com
0 komentar:
Posting Komentar